Friday, April 10, 2020

SHE : Tidak, Tidak Lagi

Terbangun, lagi-lagi mimpi buruk itu datang. Tubuhnya gemetar dengan jemari membeku.

Ia memeluk tubuhnya, terisak, "Kenapa?" Tuntutnya entah kepada siapa.

Hening.

Sang mentari kian tenggelam kembali ke peraduan. Malam menyambut membuat ia semakin kalut. Gelap, adalah musuhnya. Tapi, bisa menjadi sahabatnya. Begitu pula dengan hal yang tengah menjungkirbalikkan prinsipnya. Memberikan kepercayaan adalah musuh. Ketika dengan tidak sengaja jatuh di tempat yang tepat, bisa menjadi sahabat. Namun ia lupa bahwa manusia yang bisa ia percaya hanyalah dirinya sendiri.

Kalau dahulu ia bersikeras untuk menghukum dirinya karena bersikap emosional, kini ia membiarkan dirinya lemah. Represi telah membuatnya jatuh dalam lubang hitam pekat sendirian. Lagi-lagi, ia takut, namun merasa nyaman. Ambivalensi itu memang selalu melekat dalam kepribadiannya.

Ia mendudukkan diri, mengusap sisa air mata dengan punggung tangan. Raut wajahnya kembali datar. Semuanya kembali normal. Namun, iris cokelat itu terlihat kosong. Ia bangkit, meneguk segelas air di pantry. Kenapa ia terus merasa sesak? Jemari mengepal, ia gerakkan memukul dadanya yang terasa tidak normal. Ia butuh tidur. Tapi ia takut mimpi itu kembali datang. Ia harus terjaga. Tapi ia takut tak bisa mengontrol pikiran yang berkecamuk dan emosi yang ingin mengamuk. Ia mengambil sesuatu dari nakas. Setidaknya bisa membantunya terlelap cepat. Sebelum meneguk, egonya muncul, mengingatkan kalau ia adalah sosok yang kuat. Pil tidur, untuk kebaikan psikis dan tubuhnya, selain itu tak ada alasan lain.

Ia berbaring, masih bertanya-tanya, 'Apakah kepercayaan tidak berarti apa-apa?'.

Ia berguling ke sisi kiri, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, 'Apakah kejujuran tidak pantas diapresiasi meskipun akan menorehkan luka?'.

Pikirannya melayang hingga kantuk membawanya terlelap dalam tidur yang sepi. Kini ia tak akan pernah menaruh harapan dan kepercayaan selain pada dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa menyamai prinsip-prinsip yang ia genggam, tidak akan ada yang bisa menyentuh kehidupannya lagi. Tidak, tidak lagi.

SHE : Tidak, Tidak Lagi

Terbangun, lagi-lagi mimpi buruk itu datang. Tubuhnya gemetar dengan jemari membeku. Ia memeluk tubuhnya, terisak, "Kenapa?" Tun...